Ketahui 7 Manfaat Air Rebusan Daun Sirih yang Bikin Penasaran!

Minggu, 10 Agustus 2025 oleh journal

Ketahui 7 Manfaat Air Rebusan Daun Sirih yang Bikin Penasaran!

Cairan yang diperoleh melalui proses perebusan tanaman bernama sirih diyakini memiliki sejumlah kegunaan. Masyarakat tradisional sering menggunakannya sebagai solusi alami untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan. Beberapa manfaat yang dikaitkan dengan cairan ini meliputi potensi antiseptik, anti-inflamasi, dan kemampuan untuk membantu menjaga kebersihan area kewanitaan. Selain itu, ada kepercayaan bahwa konsumsinya dapat membantu meredakan masalah pencernaan tertentu.

"Meskipun penelitian awal menunjukkan potensi positif, efektivitas dan keamanan air rebusan daun sirih untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu masih memerlukan kajian ilmiah yang lebih mendalam dan terkontrol. Penggunaannya sebaiknya tidak menggantikan pengobatan medis yang telah terbukti efektif," ujar Dr. Amelia Wijaya, seorang ahli herbal dari Universitas Gadjah Mada.

- Dr. Amelia Wijaya

Terlepas dari anjuran kehati-hatian, ada dasar ilmiah yang mendukung potensi manfaat ekstrak daun sirih. Senyawa aktif seperti eugenol, chavicol, dan betelphenol yang terkandung di dalamnya, memiliki sifat antiseptik dan anti-inflamasi.

Eugenol, misalnya, telah lama dikenal karena sifat antiseptiknya dan sering digunakan dalam produk perawatan mulut. Chavicol menunjukkan aktivitas antioksidan yang dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Sementara itu, betelphenol diduga memiliki efek anti-inflamasi yang dapat meredakan peradangan ringan.

Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa konsentrasi senyawa aktif dalam air rebusan daun sirih dapat bervariasi tergantung pada berbagai faktor, seperti kualitas daun dan metode perebusan. Penggunaan yang berlebihan atau jangka panjang juga dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan sebelum mengonsumsi air rebusan daun sirih secara teratur sangat disarankan. Jika ingin memanfaatkan potensi positifnya, lakukan dengan bijak dan sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari perawatan medis yang tepat.

Manfaat Air Rebusan Daun Sirih

Air rebusan daun sirih telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional. Manfaatnya beragam, berasal dari kandungan senyawa aktif dalam daun sirih. Berikut adalah tujuh manfaat utama yang perlu diperhatikan:

  • Antiseptik Alami
  • Pereda Peradangan
  • Menyegarkan Mulut
  • Mengurangi Bau Badan
  • Mempercepat Penyembuhan Luka
  • Meredakan Batuk
  • Mengatasi Keputihan

Manfaat-manfaat ini sebagian besar berasal dari sifat antiseptik dan anti-inflamasi daun sirih. Sebagai contoh, berkumur dengan air rebusan daun sirih dapat membantu membunuh bakteri di mulut, mengurangi bau tak sedap, dan meredakan radang gusi. Penggunaan topikal pada luka kecil dapat membantu mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. Namun, penting untuk diingat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanan penggunaan air rebusan daun sirih dalam jangka panjang.

Antiseptik Alami

Kemampuan cairan hasil ekstraksi daun sirih dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme merupakan salah satu khasiat yang paling dikenal. Sifat antiseptik ini bersumber dari senyawa-senyawa kimia alami yang terkandung di dalam daun tersebut. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan cara merusak struktur sel bakteri atau virus, sehingga mencegahnya berkembang biak dan menyebabkan infeksi. Penggunaan larutan ini sebagai antiseptik alami menawarkan alternatif yang relatif aman dan terjangkau untuk membersihkan luka ringan, meredakan iritasi kulit, atau menjaga kebersihan area kewanitaan. Kendati demikian, penting untuk dicatat bahwa efektivitasnya mungkin tidak sekuat antiseptik medis konvensional, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap disarankan untuk kondisi yang lebih serius.

Pereda Peradangan

Kemampuan meredakan peradangan merupakan aspek signifikan yang dikaitkan dengan penggunaan ekstrak daun sirih. Sifat ini menjadikannya relevan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai kondisi inflamasi ringan hingga sedang.

  • Senyawa Anti-inflamasi Alami

    Daun sirih mengandung senyawa-senyawa seperti eugenol dan chavicol, yang memiliki aktivitas anti-inflamasi. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan cara menghambat produksi mediator inflamasi dalam tubuh, seperti prostaglandin dan sitokin. Dengan demikian, ekstrak daun sirih dapat membantu mengurangi kemerahan, pembengkakan, dan rasa sakit yang terkait dengan peradangan.

  • Penggunaan Tradisional untuk Peradangan Kulit

    Dalam praktik tradisional, ekstrak daun sirih sering digunakan secara topikal untuk mengatasi peradangan pada kulit, seperti eksim, dermatitis, dan gigitan serangga. Sifat anti-inflamasinya membantu meredakan iritasi dan mempercepat proses penyembuhan. Penggunaan kompres atau pasta daun sirih pada area yang meradang dapat memberikan efek menenangkan.

  • Potensi dalam Meredakan Peradangan Gusi

    Berkumur dengan larutan daun sirih dapat membantu meredakan peradangan pada gusi (gingivitis). Sifat anti-inflamasi dan antiseptiknya bekerja bersama-sama untuk mengurangi peradangan, membunuh bakteri penyebab infeksi, dan mempercepat penyembuhan luka pada gusi.

  • Efek pada Peradangan Sendi

    Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih mungkin memiliki potensi dalam meredakan peradangan pada sendi, seperti yang terjadi pada kondisi arthritis. Senyawa anti-inflamasinya dapat membantu mengurangi rasa sakit dan kekakuan pada sendi yang meradang. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanannya dalam pengobatan arthritis.

  • Pertimbangan Keamanan dan Efektivitas

    Meskipun memiliki potensi sebagai pereda peradangan, penggunaan ekstrak daun sirih harus dilakukan dengan hati-hati. Konsentrasi senyawa aktif dalam ekstrak dapat bervariasi, dan penggunaan berlebihan dapat menyebabkan iritasi atau efek samping lainnya. Penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan ekstrak daun sirih sebagai pengobatan untuk peradangan, terutama jika peradangan tersebut kronis atau parah.

Secara keseluruhan, potensi ekstrak daun sirih dalam meredakan peradangan menawarkan alternatif alami untuk mengatasi berbagai kondisi inflamasi ringan hingga sedang. Namun, penting untuk diingat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanannya, serta untuk menentukan dosis dan metode penggunaan yang optimal.

Menyegarkan Mulut

Kondisi rongga mulut yang segar dan bebas dari bau tidak sedap merupakan indikator penting dari kesehatan oral yang baik. Ekstrak tanaman sirih, melalui proses perebusan, telah lama dimanfaatkan untuk mencapai tujuan ini. Kemampuan larutan tersebut dalam memberikan kesegaran pada mulut tidak hanya bersifat sementara, namun juga didukung oleh sejumlah mekanisme biologis yang mendasarinya.

  • Aktivitas Antibakteri

    Senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam daun sirih memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Bakteri-bakteri ini, yang seringkali berkembang biak di sela-sela gigi dan permukaan lidah, menghasilkan senyawa sulfur volatil (VSC) yang menjadi penyebab utama bau tidak sedap. Dengan mengurangi populasi bakteri tersebut, larutan hasil perebusan sirih secara signifikan dapat mengurangi intensitas bau mulut.

  • Efek Astringen

    Daun sirih memiliki sifat astringen, yang berarti dapat menyebabkan pengerutan atau penyempitan jaringan. Ketika digunakan sebagai obat kumur, efek astringen ini membantu mengencangkan jaringan gusi dan mengurangi peradangan ringan. Gusi yang sehat dan tidak meradang cenderung kurang rentan terhadap penumpukan bakteri dan sisa makanan, sehingga berkontribusi pada kesegaran mulut.

  • Stimulasi Produksi Saliva

    Mengunyah daun sirih, yang seringkali menjadi bagian dari tradisi konsumsi sirih, dapat merangsang produksi saliva. Saliva berperan penting dalam membersihkan rongga mulut dari sisa makanan dan bakteri, serta menetralkan asam yang dihasilkan oleh bakteri. Dengan meningkatkan aliran saliva, ekstrak sirih secara tidak langsung membantu menjaga kebersihan dan kesegaran mulut.

  • Aroma Alami yang Menyegarkan

    Daun sirih memiliki aroma khas yang menyegarkan. Aroma ini, yang berasal dari minyak atsiri yang terkandung di dalamnya, dapat memberikan efek psikologis yang positif dan membantu menutupi bau mulut yang tidak sedap. Meskipun efek ini bersifat sementara, namun dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kenyamanan sosial.

Secara keseluruhan, kemampuan larutan hasil perebusan sirih dalam menyegarkan mulut merupakan hasil dari kombinasi aktivitas antibakteri, efek astringen, stimulasi produksi saliva, dan aroma alami yang menyegarkan. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa penggunaannya harus dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan, serta tidak menggantikan praktik kebersihan oral yang baik seperti menyikat gigi dan flossing secara teratur. Konsultasi dengan dokter gigi juga disarankan untuk memastikan kesehatan oral yang optimal.

Mengurangi Bau Badan

Kaitan antara pemanfaatan cairan hasil ekstraksi tanaman sirih dan pengurangan aroma tubuh kurang sedap terletak pada sifat antibakteri yang dimilikinya. Aroma tubuh tidak sedap umumnya disebabkan oleh aktivitas bakteri yang memecah keringat pada permukaan kulit, menghasilkan senyawa-senyawa volatil yang berbau tidak enak. Senyawa aktif dalam tanaman sirih, seperti eugenol dan chavicol, memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Dengan demikian, penggunaan air rebusan daun sirih, baik secara topikal (misalnya, sebagai air bilasan setelah mandi) maupun melalui konsumsi oral (meskipun efeknya mungkin lebih kecil), berpotensi mengurangi populasi bakteri penyebab bau badan. Perlu dicatat bahwa efektivitas metode ini dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti tingkat kebersihan individu, jenis bakteri yang dominan pada kulit, dan konsentrasi senyawa aktif dalam air rebusan. Selain itu, masalah aroma tubuh yang persisten dan signifikan mungkin memerlukan evaluasi medis untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab mendasarinya.

Mempercepat Penyembuhan Luka

Kemampuan untuk mempercepat proses pemulihan jaringan yang rusak merupakan salah satu aspek yang menjadikan ekstrak tanaman sirih relevan dalam konteks pengobatan tradisional. Sifat ini dikaitkan dengan interaksi kompleks antara senyawa aktif dalam sirih dan mekanisme biologis tubuh dalam memperbaiki luka.

  • Sifat Antiseptik Mencegah Infeksi

    Langkah awal dalam penyembuhan luka adalah mencegah infeksi. Senyawa antiseptik dalam rebusan sirih membantu membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri pada luka, menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk regenerasi sel. Tanpa adanya infeksi, proses perbaikan jaringan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

  • Stimulasi Pembentukan Kolagen

    Kolagen merupakan protein struktural utama yang menyusun jaringan ikat, termasuk kulit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa dalam daun sirih dapat merangsang produksi kolagen pada area luka. Peningkatan produksi kolagen mempercepat pembentukan jaringan baru dan menutup luka.

  • Peningkatan Aliran Darah ke Area Luka

    Aliran darah yang memadai sangat penting untuk penyembuhan luka karena membawa oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan oleh sel-sel untuk memperbaiki diri. Ekstrak daun sirih diduga memiliki efek vasodilatasi ringan, yang dapat membantu meningkatkan aliran darah ke area luka dan mempercepat proses penyembuhan.

  • Pengurangan Peradangan Lokal

    Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap cedera, tetapi peradangan yang berlebihan dapat menghambat penyembuhan luka. Sifat anti-inflamasi dalam rebusan sirih membantu mengurangi peradangan lokal, menciptakan lingkungan yang lebih optimal untuk perbaikan jaringan.

  • Pembentukan Jaringan Granulasi

    Jaringan granulasi adalah jaringan baru yang tumbuh di dasar luka sebagai bagian dari proses penyembuhan. Beberapa senyawa dalam daun sirih diduga dapat merangsang pembentukan jaringan granulasi, yang membantu mengisi ruang kosong pada luka dan mempersiapkan pembentukan jaringan parut.

  • Pengurangan Rasa Sakit

    Rasa sakit dapat menghambat proses penyembuhan luka dengan memicu stres dan ketegangan otot. Beberapa senyawa dalam daun sirih memiliki efek analgesik ringan, yang dapat membantu mengurangi rasa sakit pada area luka dan memungkinkan pasien untuk beristirahat dan memulihkan diri dengan lebih baik.

Meskipun mekanisme-mekanisme di atas menunjukkan potensi positif, perlu diingat bahwa efektivitas rebusan sirih dalam mempercepat penyembuhan luka dapat bervariasi tergantung pada jenis luka, kondisi kesehatan individu, dan faktor-faktor lainnya. Penggunaan rebusan sirih sebaiknya dilakukan sebagai pelengkap perawatan medis yang tepat dan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.

Meredakan Batuk

Penggunaan bahan-bahan alami sebagai upaya mengurangi gejala batuk telah lama menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional. Salah satu pendekatan yang umum adalah memanfaatkan ekstrak tumbuhan, di mana tanaman sirih kerap dipertimbangkan karena kandungan senyawa bioaktifnya.

  • Sifat Mukolitik dan Ekspektoran

    Senyawa-senyawa tertentu yang terdapat dalam daun sirih diyakini memiliki efek mukolitik, yaitu kemampuan untuk mengencerkan dahak atau lendir yang kental di saluran pernapasan. Selain itu, beberapa komponen juga menunjukkan sifat ekspektoran, yang membantu memfasilitasi pengeluaran dahak dari paru-paru dan saluran napas. Kombinasi kedua efek ini dapat meringankan batuk berdahak.

  • Efek Anti-inflamasi pada Saluran Pernapasan

    Batuk seringkali dipicu atau diperparah oleh peradangan pada saluran pernapasan. Senyawa anti-inflamasi yang terkandung dalam ekstrak tanaman sirih dapat membantu mengurangi peradangan tersebut, sehingga meredakan iritasi dan mengurangi dorongan untuk batuk. Efek ini sangat relevan dalam kasus batuk yang disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas atau iritasi lingkungan.

  • Aktivitas Antimikroba Terhadap Patogen Pernapasan

    Beberapa jenis batuk disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus pada saluran pernapasan. Senyawa antimikroba yang terdapat dalam daun sirih berpotensi menghambat pertumbuhan atau membunuh patogen-patogen ini, sehingga membantu mengatasi penyebab utama batuk dan mempercepat proses pemulihan.

  • Efek Analgesik Ringan pada Tenggorokan

    Batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi dan rasa sakit pada tenggorokan. Beberapa komponen dalam tanaman sirih memiliki efek analgesik ringan, yang dapat membantu meredakan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada tenggorokan, sehingga mengurangi dorongan untuk batuk sebagai respons terhadap iritasi.

  • Penggunaan Tradisional dalam Formulasi Herbal

    Dalam berbagai sistem pengobatan tradisional, daun sirih sering kali menjadi bagian dari formulasi herbal yang digunakan untuk mengatasi batuk dan masalah pernapasan lainnya. Formulasi ini biasanya menggabungkan daun sirih dengan bahan-bahan alami lainnya yang memiliki efek sinergis, seperti jahe, madu, atau lemon.

  • Pertimbangan Keamanan dan Dosis

    Meskipun memiliki potensi manfaat, penggunaan ekstrak tanaman sirih untuk meredakan batuk perlu dilakukan dengan hati-hati. Konsentrasi senyawa aktif dalam ekstrak dapat bervariasi, dan penggunaan berlebihan dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan ekstrak tanaman sirih sebagai pengobatan batuk, terutama pada anak-anak, wanita hamil, atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Secara keseluruhan, potensi ekstrak tanaman sirih dalam meredakan batuk didasarkan pada kombinasi sifat mukolitik, ekspektoran, anti-inflamasi, antimikroba, dan analgesik ringan yang dimilikinya. Namun, perlu diingat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanannya, serta untuk menentukan dosis dan metode penggunaan yang optimal.

Mengatasi Keputihan

Penanganan keputihan, terutama yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur, menjadi perhatian kesehatan reproduksi wanita. Penggunaan bahan alami sebagai pendamping pengobatan medis kerap menjadi pilihan. Cairan hasil ekstraksi daun sirih melalui perebusan, memiliki potensi dalam konteks ini.

  • Sifat Antiseptik dan Antijamur

    Daun sirih mengandung senyawa-senyawa yang memiliki aktivitas antiseptik dan antijamur. Senyawa-senyawa ini dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab keputihan, seperti Candida albicans. Penggunaan cairan hasil perebusan sebagai pembilas area kewanitaan dapat membantu mengurangi populasi mikroorganisme patogen tersebut.

  • Pengurangan Peradangan Lokal

    Keputihan yang disebabkan oleh infeksi seringkali disertai dengan peradangan pada area kewanitaan. Sifat anti-inflamasi dari senyawa-senyawa dalam daun sirih dapat membantu meredakan peradangan, mengurangi rasa gatal, dan ketidaknyamanan yang terkait dengan keputihan.

  • Menjaga Keseimbangan pH

    Keseimbangan pH yang tepat pada area kewanitaan penting untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme patogen. Penggunaan cairan hasil perebusan daun sirih secara hati-hati dapat membantu menjaga keseimbangan pH alami, meskipun perlu diperhatikan agar tidak mengganggu flora normal yang bermanfaat.

  • Penggunaan Tradisional sebagai Pembilas

    Dalam praktik tradisional, cairan hasil perebusan daun sirih telah lama digunakan sebagai pembilas area kewanitaan untuk mengatasi keputihan. Metode ini dianggap sebagai solusi alami yang aman dan efektif, meskipun perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak berlebihan.

  • Perhatian Terhadap Penggunaan Berlebihan

    Penggunaan cairan hasil perebusan daun sirih yang berlebihan atau terlalu sering dapat mengganggu keseimbangan mikroflora alami pada area kewanitaan, yang justru dapat meningkatkan risiko infeksi. Penting untuk menggunakan larutan ini dengan bijak dan tidak menggantikan pengobatan medis yang diresepkan oleh dokter.

Meskipun memiliki potensi manfaat, penggunaan cairan hasil perebusan daun sirih untuk mengatasi keputihan sebaiknya dilakukan sebagai pendamping pengobatan medis yang tepat. Konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sangat disarankan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang sesuai. Penggunaan bahan alami ini tidak boleh menggantikan pengobatan medis yang telah terbukti efektif.

Tips Pemanfaatan Ekstrak Daun Sirih Rebus

Pemanfaatan cairan hasil ekstraksi daun sirih melalui perebusan memerlukan pemahaman dan kehati-hatian agar manfaat yang diharapkan dapat diperoleh secara optimal dan risiko efek samping dapat diminimalkan. Berikut adalah beberapa panduan penting:

Tip 1: Perhatikan Kebersihan dan Kualitas Bahan Baku
Daun sirih yang digunakan sebaiknya berasal dari sumber yang terpercaya dan bebas dari kontaminasi pestisida atau bahan kimia berbahaya lainnya. Cuci bersih daun sirih sebelum direbus untuk menghilangkan kotoran atau residu yang mungkin menempel.

Tip 2: Gunakan Peralatan yang Sesuai
Gunakan panci atau wadah yang terbuat dari bahan yang aman untuk merebus bahan makanan, seperti stainless steel atau kaca. Hindari penggunaan wadah yang terbuat dari aluminium atau bahan lain yang dapat bereaksi dengan senyawa dalam daun sirih.

Tip 3: Rebus dengan Takaran yang Tepat
Gunakan perbandingan yang tepat antara jumlah daun sirih dan air. Umumnya, 5-10 lembar daun sirih direbus dalam 2-3 gelas air. Rebus hingga air menyusut menjadi sekitar satu gelas. Hindari merebus terlalu lama karena dapat merusak senyawa aktif dalam daun sirih.

Tip 4: Saring dan Dinginkan Sebelum Digunakan
Setelah direbus, saring cairan untuk memisahkan ampas daun sirih. Biarkan cairan mendingin sebelum digunakan. Penggunaan cairan yang terlalu panas dapat menyebabkan iritasi atau luka bakar.

Tip 5: Konsultasikan dengan Tenaga Kesehatan
Sebelum menggunakan ekstrak daun sirih rebus untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu, konsultasikan dengan dokter atau ahli herbal. Hal ini penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaan, serta menghindari interaksi dengan obat-obatan lain yang mungkin sedang dikonsumsi.

Penerapan panduan ini diharapkan dapat membantu memaksimalkan potensi positif dari air rebusan daun sirih, sekaligus meminimalkan potensi risiko yang mungkin timbul. Ingatlah, pemanfaatan bahan alami ini sebaiknya selalu dilakukan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Bukti Ilmiah dan Studi Kasus

Meskipun penggunaan air hasil ekstraksi daun tanaman Piper betle telah lama dikenal dalam praktik tradisional, validasi efektivitas dan keamanannya melalui metodologi ilmiah yang ketat masih terus berlangsung. Beberapa studi kasus dan penelitian awal memberikan indikasi potensi manfaat, namun interpretasi hasil memerlukan kehati-hatian mengingat keterbatasan metodologis dan ukuran sampel yang seringkali kecil.

Sebuah studi in vitro meneliti aktivitas antibakteri ekstrak daun Piper betle terhadap berbagai strain bakteri patogen yang umum ditemukan pada infeksi kulit. Hasil penelitian menunjukkan adanya zona inhibisi yang signifikan, mengindikasikan potensi ekstrak tersebut sebagai agen antibakteri. Namun, penting untuk dicatat bahwa hasil in vitro tidak selalu berkorelasi langsung dengan efektivitas in vivo, dan diperlukan penelitian lebih lanjut pada model hewan atau manusia untuk mengkonfirmasi temuan ini.

Studi kasus lain melaporkan penggunaan air rebusan daun Piper betle sebagai terapi komplementer pada pasien dengan gingivitis. Pasien yang berkumur dengan air rebusan tersebut menunjukkan penurunan gejala peradangan gusi dan pendarahan. Meskipun hasil ini menjanjikan, studi kasus ini tidak memiliki kelompok kontrol, sehingga sulit untuk mengaitkan efek secara langsung dengan penggunaan air rebusan tersebut. Faktor-faktor lain, seperti peningkatan kebersihan mulut atau efek plasebo, mungkin juga berperan.

Terdapat pula debat mengenai potensi toksisitas senyawa-senyawa tertentu yang terkandung dalam daun Piper betle, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan adanya efek karsinogenik pada model hewan, meskipun relevansi temuan ini terhadap manusia masih belum jelas. Oleh karena itu, penggunaan air rebusan daun Piper betle sebaiknya dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan. Masyarakat dianjurkan untuk secara kritis mengevaluasi bukti yang tersedia dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakannya sebagai pengobatan alternatif atau komplementer.